Danau Maninjau

Jika di Medan ada Danau Toba sebagai primadona, di Padang atau tepatnya Kapubaten Agam punya Danau Maninjau yang sejarahnya tak jauh berbeda dengan danau terbesar se-Asia Tenggara tersebut. Danau Maninjau adalah danau vulkanik yang terbentuk akibat letusan Gunung Sitinjau 52 ribu tahun silam. Letusan tersebut membentuk sebuah kaldera yang kemudian terisi air yang kita kenal sebagai Danau Maninjau.

Berada di ketinggian 460 meter di atas permukaan laut membuat danau ini terasa begitu sejuk. Airnya yang biru bening, gumpalan awan, dan kabut tipis di sekitarnya membuat danau ini nampak begitu cantik. Apalagi danau ini dikelilingi oleh perbukitan indah nan hijau. Danau seluas 105 meter ini tak hanya menjadi danau terluas kesebelas di Indonesia tetapi juga tempat melepas penat yang sempurna. Apalagi jika berada di tepian danau saat senja, paduan warna keemasan berpadu dengan kabut tipis akan menjadi penutup manis hari Anda.

Danau Maninjau juga sempat menghipnotis tokoh sekeliber Bung Karno. Dalam catatan pribadinya ia pernah menuliskan keindahan Danau Maninjau "Jika ke tanah Minang tidak akan lengkap dan sempurna sebelum menikmati keindahan Danau Maninjau." Selain Bung Karno, penulis kenamaan Buya Hamka juga terinspirasi dengan kecantikan Danau Maninjau yang kemudian dicurahkan lewat novelnya "Tenggelamnya Kapal Van Der Wick". Latar dalam novel tersebut diangkat dari suasana danau dan budaya masyarakat lokal setempat.

Aktivitas

Wisata danau Maninjau akan lebih nikmat jika dilakukan dari ketinggian. Puncak Lawang adalah tempat yang tepat untuk memandang hamparan keindahan Danau Maninjau. Kemudian aktivitas lain yang bisa dilakukan adalah memancing, menelusuri danau menggunakan perahu, kano atau sepeda, dan tak lupa berburu kuliner khas masyarakat sekitar.

Danau Maninjau juga menjadi sumber ekonomi masyarakat sekitar melalui aktivitas budidaya ikan patin. Maka tak heran jika pengunjung menemukan banyak kolam keramba dan para peternak ikan di sana. Anda bisa membaur dengan masyarakat setempat dan mengamati kegiatan budidaya ikan patin ini. Tak hanya itu saja, pemerintah setempat juga memanfaatkan aliran hulu sungai tersebut sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Selain wisata danau, Anda juga bisa menikmati wisata lain yang berada tak jauh dari tempat ini. Misalnya saja sajian indah dari kelok 44. Ini adalah akses jalan berkelok ke-44 yang khas di tanah Sumatera Barat yang menjadi patokan menuju Danau Maninjau. Meskipun jalanan curam, tapi aspalnya mulus ditambah dengan hamparan perbukitan memanjakan mata yang membuat Anda tidak bosan menempuh kelokan demi kelokan.

Kemudian, ada museum Buya Hamka Maninjau menghadap ke danau Maninjau dengan konsep rumah gadang khas Sumatera Barat. Hampir setiap pengunjung danau mampir ke rumah tempat tinggal ulama besar minang ini. Di tempat tersebut pengunjung bisa menghayati semangat perjuangan Buya Hamka semasa hidupnya melalui benda-benda peninggalannya termasuk koleksi buku-bukunya. Menyelami lebih dalam karakter seorang sastrawan, jurnalis, ahli tafsir, dan sekaligus politis ini.

Menuju Lokasi

Untuk menuju Danau Maninjau, ada dua pilihan jalur yang bagi pengunjung. Pertama, datang dari arah barat yakni dari Padang melewati Pariaman yang akan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Kedua, datang dari arah timur dari padang melewati Bukittinggi yang mengarah ke kelok 44 dengan estimasi waktu sekitar tiga jam.

 

Hotel dan Akomodasi terdekat

{vi_accommodation}-0.3335714|100.1393052{/vi_accommodation}
(Image Source: Flicker and or Google Places API. Term and Condition referred to Flicker and Google Places API)